INIHANTU - FAKTA MENARIK DARI GEREJA GEDANGAN SEMARANG

FAKTA MENARIK DARI GEREJA GEDANGAN SEMARANG 

INIHANTU | FAKTA MENARIK DARI GEREJA GEDANGAN SEMARANG | Gereja Santo Yusuf di Jalan Ronggowarsito atau oleh masyarakat Semarang sering disebut sebagai Gereja Gedangan merupakan cikal bakal gereja Katolik di Indonesia. Gereja yang lokasinya tak jauh dari kawasan Kota Lama Semarang ini berdiri pada tahun 1875.

Dari berbagai literasi, berdirinya gereja ini berdiri sekitar tahun 1808, Gubernur Jenderal Deandels yang saat itu menjadi penguasa di Hindia Belanda (Indonesia) mendapat dua orang imam praja dari Belanda untuk melayani umat Katolik bangsa Eropa di Indonesia. 

Salah seorang di antaranya, Pastur L Prinsen Pr yang ditempatkan di Semarang. Ketika itu, umat Katolik belum memiliki tempat ibadah sendiri dan melakukan ibadah di Gereja Protestan Indonesia di bagian Barat (GPIB) atau Gereja Blenduk di dekat Taman Srigunting (Kota Lama).

Gereja Katolik sempat memiliki tempat ibadah sendiri tahun 1815, yakni Paroki Santo Yusup Semarang di Jalan Ronggowarsito atau satu lokasi dengan yang kemudian dibangun Gereja Gedangan. Wilayah paroki meliputi Jateng, Jatim, dam Jabar.

Namun, dalam perjalanannya, Gereja Katolik sempat mengalami hambatan. Selama 1845 sampai 1847 semua pastor Belanda di Indonesia diusir termasuk Uskup Groff, oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Rochussen. Berkat perundingan dengan takhta suci (Vatikan) pada 1848 dan campur tangan Pemerintah Belanda, kemudian Gereja Katolik di Indonesia bisa terus berkembang.

Pada 1875 akhirnya Pastor J Lijnen Pr mendirikan gedung Gereja Santo Yusuf Gedangan yang indah dan anggun hingga saat ini. Dari gereja inilah para imam Yesuit mencari jalan untuk mendobrak dinding pemisah yang mengotakkan antara masyarakat Eropa dan pribumi.

Dari pantauan ayosemarang.com, Gereja Gedangan masih tampak sangat artistik dan anggun dengan warna gedung didominasi oleh warna bata merah alami. Menurut Sudarman (75), salah satu jemaat gereja yang sudah senior, dari berbagai cerita yang dia peroleh dari para pengurus gereja sebelumnya, bentuk gereja seperti ini masih sama dengan awal berdiri. 

"Kalaupun ada renovasi hanya memperbarui catnya," jelas dia.

Memang kalau dilihat, bagian dalam gereja seluruhnya juga masih asli dan sangat terawat. Patung Empat Tokoh Agung dari Perjanjian Lama dan Baru, yakni Abraham, St Petrus, St Paulus, dan Imam Melkisedek menghiasi altar lama di atas Tabernakel (tempat penyembahan). Patung ini didatangkan dari Jerman pada tahun 1880.

Orgel pipa (alat musik gerejawi) yang menunjang Liturgi (upacara) juga masih terlihat kukuh. Kualitas suara dari alat musik ini sangat khas, yakni sendu dan merdu. Alat ini termasuk langka karena tidak banyak gereja yang memilikinya.

Yang cukup menarik, di salah satu sudut ruangan gereja terdapat Patung Hati Kudus Yesus. 

Patung ini, terbuat dari kayu berdiri di atas nisan Mgr Lijnen (pendiri gereja) yang konon berhasil diselamatkan dari tempat pemakaman umum Kobong. Makam Kobong ini lokasinya sekitar 200 meter sebelah timur Gereja Gedangan. Di dekat patung juga ada bejana baptis. 

Di sudut lain, ukiran 14 stasi Jalan Salib Tuhan menghiasi dinding kanan dan kiri gedung menjadi sebuah karya seni yang indah. Ukiran itu menceritakan bagaimana perjalanan Yesus mulai diadili oleh Raja Pilatus, disiksa, terjatuh hingga disalib.

Di sisi atas altar ruang gereja terdapat art-glass yang sudah berusia ratusan tahun, menekankan pada figur St Yusuf sebagai pelindung Gereja Katolik Gedangan. Secara urut dari sisi kanan altar, gambar di jendela tersebut menggambarkan Keluarga Kudus (Yesus Kristus, Bunda Maria, dan Yusup) dalam perjalanan ke Mesir, kehidupan sehari-hari Keluarga Kudus dan wafat St Yusuf.

Gereja ini juga memiliki dua buah lonceng yang dibunyikan setiap setengah jam sebelum misa dimulai. Kedua lonceng itu memiliki ukuran yang berbeda. Lonceng besar (tinggi 93,5 cm dan diameter lubang bawah 90 cm) dan lonceng kecil (tinggi 75 cm, diamater lubang bawah 70 cm). 

Keduanya terbuat dari bahan besi cetak atau cor dengan ketebalan 7 sampai 8 cm untuk lonceng besar dan 5 sampai 6 cm untuk lonceng kecil. Di dalam lonceng tersebut terdapat tahun pembuatan, yakni April 1882 dan dibuat oleh perusahaan Petit en Fritsen di Aaerle Riktel dan dikapalkan dari Rotterdam.

Dari lonceng tersebut juga tertera nama Joseph Andrieux, yang dalam buku sejarah gereja, dia adalah anak dari Ludovicus A Andrieux dan Catharina FE Marquise yang lahir pada 27 Maret 1823 dan sudah dibabtis di Semarang.

Dari catatan yang ada di gereja, mereka berasal dari Prancis yang tinggal di Semarang pada zaman itu. Kala itu, menara gereja terdapat jam menara yang bisa terlihat setiap orang yang melewati gereja. Sistem mesin jam menara tersebut tersambung dengan lonceng kecil, sehingga dapat berbunyi setiap setengah jam. 

Namun, jam tersebut kini harus diturunkan karena sistem mesin dan jarum-jarum jam digantikan dengan tulisan IHS seperti sekarang ini. Adapun penggantian jam menara tersebut dilakukan sekitar tahun 1978 oleh Romo J Van Waijenburg SJ. 

Huruf IHS tersebut sebenarnya merupakan tiga huruf pertama dari nama Yesus seperti tertulis dalam abjad Yunani. Dalam bahasa Latin diartikan Iesus Hominum Salvator yang berarti Yesus Penyelamat Manusia....

Semoga artikel ini memuaskan dahagamu akan kisah misteri ya

SUMBER: AYOSEMARANG

Baca Juga : 

MISTERI WADUK CENGKLIK BOYOLALI

Untuk Informasi Lebih Lanjut Hubungi:
TELEGRAM : +855 858 498 13
WHATSAPPS : +855 858 498 13


Komentar

Postingan populer dari blog ini

INIHANTU - CERITA MISTIS DAN NASIB MES ARSETO SOLO SEKARANG

INIHANTU - KISAH MISTERI DAN LEGENDA SRIGATI NGAWI

INIHANTU - KISAH HOROR LEGENDARIS SMA TUGU MALANG