INIHANTU - SEJARAH PURA GUNUNG KAWI BALI
INIHANTU | SEJARAH PURA GUNUNG KAWI BALI | Pura Gunung Kawi terletak di Banjar Penaka/ dusun Penaka, Perbekalan Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Pura Gunung Kawi bearada pada ketinggian 470 meter diatas permukaan laut. Di pura (situs) ini di temukan 10 pahatan candi padas yang terdiri dari 5 di bagiantimurdan 5 di bagian barat Tukad Pakerisan, serta 34 pahatan gua-gua pertapaan candi yang di pahatkan di tepi sebelah timur menghadap kebarat sedangkan yang di pahatkan di tepi sebelah barat menghadap ketimur. Ini berarti candi tersebut saling berhadap-hadapan.
Pahatan Candi Padas di Timur Tukad Pakerisan. Di tepi sebelah timur sungai ini di dirikan 5 buah pahatan candi menghadap kebarat, masing-masing pahatan candi tersebut di dirikan dalam sebuah ceruk berjajar membujur utara-selatan, sedangkan antara candi satu dengan lainya di batasi oleh pilaster yang berbentuk bidang datar polos. Ke 5 pahatan candi ini berdiri atas Batur yang sama dengan ukuran tinggi 2.50 meter, kemudian diatas Batur terdapat lapik yang tingginya 1.35 meter. Secara arsitektural pahatan candi ini terdiri dari bagian kaki, badan/tubuh, dan atap candi.
Perbedaan hanya tampak dalam ukuran dari unsur-unsur candi seperti terlihat pada gambar berikut Foto candi
Di depan 5 pahatan candi ini terdapat halaman yang berukuran 28.80 x 12.30 meter. Di muka halaman candi terdapat saluran air yang di gunakan untuk mengalirkan air kekolam yang ada di bawahnya, sedangkan air yang tertampung pada kola ini lalu di alirkan ke Tukad Pakerisan. Pada beberapa candi di temukan prasasti yang di pahatkan pada ambang pintu semu candi tersebut. Pada ambang pintu Candi 1 terletak paling utara terdapat tulisan pendek yang di tulis dengan huruf tipe Kadiri dan berbunyi“ haji luma hing jalu”dan ambang pintu Candi 2 yang terletak di sebelah selatan candi pertama terdapat prasasti yang berbunyi“ rwanakira”. Dalam candi-candi lainnya mungkin dahulu terdapat prasasti, namun karena bagian muka candi itu sudah aus maka tidak ditemukan lagi adanya tulisan. Oleh karena pahatan candi pada sini mempunyai bentuk yang sama, maka dalam penelitian ini tidak semua candi diperkirakan satu persatu melainkan yang berlaku umum untuk semua pahatan candi pada sini.
Hal ini dimaksud kan untuk menghindari terjadinya pengulangan dalam pemerian itu.
Pemerian yang di terapkan dalam tulisan ini sesuai dengan cara yang telah di lakukan oleh Parmono Atmadi dalam disertasinya (1979:228) sebagaiberikut:
Kaki candi terdiri atas:
• Batur yang terdiri atas perbingkaian bawah dan atas.
• Perbingkaian bawah kaki candi yang terdiri atas lapik, pelipit bawah kaki candi dan batang
• Perbingkaian atas kaki candi yang terdiri atas bingkai dan pelipit atas kaki candi.
Badan/Tubuh Candi terdapat:
• Perbingkaian bawah tubuh candi, yang terdiri atas pelipit bawah, pelipit bawah tubuh candi dan bingkai.
• Perbingkaian atas tubuh candi, yang terdiri atas bingkai dan pelipit atas tubuh candi.
• Pada tubuh candi terdapat pintu semu ukuran berbeda-beda antara candi satu dengan candi lainnya.
• Pada bagian bawah pintu semu itu terdapat lubang yang mungkin berfungsi sebagai tempat menempatkan peripih (pedagingan) candi.
Atap Candi Terdiri Atas:
• Lapisan atap pertama, yang terdiri atas pelipit dan di atas pelipit berdiri 3 buah menara atap.
• Lapisan atap ke-2 yang bentuknya makin mengecil yang terdiri dari pelipit polos dan diatas pelipit ini berdiri 3 buah menara atap.
• Lapisan atap ke-3 juga makin mengecil bentuknya terdiri dari pelipit dan diatasnya berdiri 3 buah menara atap.
• Puncak atas terdiri sebuah pelipit yang diatasnya berdiri puncak atap yang berbentuk buah keben.
Pahatan candi padas di tepi barat Tukad Pakerisan. Disebelah barat candi ini terdapat 4 buah pahatan candi padas yang dipahatkan dalam ceruk berjajar membujur dari utara keselatan menghadap ketimur berhadapan dengan pahatan candi yang ada di timur Tukad Pakerisan.
Pahatan candi ini nampak adanya kerapuhan seperti pada bagian lapik maupun atap candi. Candi-candi itu didirikan pada batur yang sama, sedangkan bagian-bagian candi terdiri dari batur, lapik, badan /tubuh, dan atap candi. Batur candi ini terdiri dari perbingkaian atas dan bawah. Pada badan atau tubuh candi ini terdapat pintu semu serta perbingkaian badan candi yang di pahatkan di timur Tukad Pakerisan. Bila diperhatikan atapnya Nampak makin keatas makin mengecil dengan 3 lapisan atap serta masing-masing lapisan terdiri dari 3 menara atap dan pada puncak berbentuk mahkota.
Pada ambang pintu semu, candi ini tidak ditemukan prasasti, sedangkan di bawah pintu semu ditemukan sumuran yang sekarang sudah tidak ada isinya. Sumuran tersebut dahulu di gunakan untuk menempatkan peripih (pedagingan) candi. Peripih ini sekarang sudah tidak ada. Di depan pahatan candi ini terdapat halaman yang cukup luas dengan ukuran 20 x 13 meter, sedangkan di belakang halaman ini di temukan bekas penampungan air yang mengalir melalui 4 buah pancuran yang ada di depan lapik candi.
Pahatan candi padas di Bukit Gundul, situs candi ini terletak di tepi barat laut Tukad Pakerisan yang didirikan pada sebuah ceruk menghadap ketenggara dan masih merupakan satu kompleks dengan situs-situs yang telah di sebutkan di atas. Untuk mencapai situs ini kita harus berjalan kaki melalui pematang sawah yang ada di tepi barat Tukad Pakerisan, kemudian berbelok kanan sejauh 400 meter kecuali sebuah pahatan candi, pada situs ini terdapat pula beberapa gua pertapaaan yang di pahatkan di sekitarnya, masyarakat menamakan tempat ini Bukit Gundul.
Seperti halnya dengan pahatan candi yang disebutkan di atas, pahatan candi ini juga mempunyai bentuk arsitektur yang sama yaitu terdiri dari bagian kaki, badan/tubuh dan atap candi. Bagian kaki terdiri dari lapik dan perbingkaian bawah kaki candi. Sedangkan pada badan candi terdapat pintusemu. Di atas ambang pintu semu ini terdapat prasasti pendek yang di tulis dengan huruf tipe Kadiri yang berbunyi “rakryan” (Stutterheim1929 : 72 ; Bernet-Kempres 1960 : 79 : 1977). Di sebelah kanan badan candi terdapat lubang yang belum di ketahui fungsi sebenarnya, namun sekarang lubang itumerupakansaluran air menujukeparit yang ada di depan kaki candi. Pada badan candi terdapat perbingkaian bawah dan atas serta pelipit-pelipit, sedangkan di depan lapik terdapat tangga dengan 5 anak tangganya. Atap candi terdiri dari 3 lapis, lapis pertama di hiasi dengan pelipit serta 3 buah menara atap di atasnya, demikian juga dengan atap lapis 2 dan 3, masing-masing di hiasi pelipit dengan 3 menara atap di atasnya, sedangkan puncak atap di hiasi dengan mahkota. Dilihat dari segi bentuknya atap candi ini makin keatas makin mengecil seprti juga dengan candi-candi lainnya di kompleks ini. Keadaan candi ini masih cukup baik hanya saja adanya air yang mengalir di samping kanan badan candi akan menyebabkan candi itu dalam keadaaan lembab sepanjang hari. Apabila air yang membasahi candi itu tidak diatasi segera, maka dikhawatirkan mengganggu keselaatan candi tersebut karena dipahatkan pada batu padas yang mempunyai sifat lunak dan mudah rapuh. Di depan candi ini terdapat halaman yang cukup luas dan sekarang oleh penduduk setempat di Tanami beberapa jenis tanaman seperti pohon pisang.
Semoga artikel ini memuaskan dahagamu akan kisah misteri ya
Baca Juga :





Komentar
Posting Komentar